Minggu, 01 Mei 2011

Fenomena Media Internasional di Indonesia

Beberapa tahun yang lalu Indonesia telah memasuki era globalisasi. Sebuah zaman dimana masyarakat harus bisa menggunakan teknologi multimedia yang baru. Mau tidak mau kita harus menjalaninya. Apalagi dengan adanya global vilagge, yaitu dimana satu gosip dan peristiwa di penjuru dunia dalam hitungan detik dan menit bisa beredar dimuka bumi ini, dan juga mengakibatkan hadirnya sebuah ikon baru di industri media yaitu media global. Media global lahir dari dari perkembangan teknologi yang sangat pesat. Global berarti menjangkau seluruh dunia dan media berarti lembaga atau perusahaan yang mendistribusikan dan memproduksi informasi. Artinya sebuah media mampu menjangkau pasar tidak hanya ditingkat nasional (negara sendiri) melainkan seluruh dunia. Di Indonesia sendiri saja, terhitung lebih dari 10 stasiun televisi menghiasi layar kaca televisi kita, itu belum termasuk televisi daerah.
Tentunya sebagai ladang bisnis, media massa dibentuk sedemikian rupa dengan tujuan profit sebesar-besarnya. Sedemikian besar profit yang bisa diraih dari sebuah media massa, membuat para pemilik modal berlomba untuk terus melebarkan sayapnya di industri yang tak pernah tidur ini.
Berbagai negara di Dunia menjadi tujuan pemasaran produk-produk media yang diciptakan kaum kapitalis global. Terutama negara-negara berkembang dan terbelakang yang masih memiliki kaum menengah dengan penghasilan yang cukup untuk membeli produk kaum kapitalis. Misalnya Asia, Amerika Selatan, dan Eropa Timur.
Indonesia sebagai salah salah satu negara berkembang di kawasan Asia merupakan target empuk bagi para pemilik modal untuk menancapkan bendera kesuksesan mereka. Selain karena memiliki jumlah penduduk keempat terbesar di dunia, kaum menengah di Indonesia yang berperilaku konsumtif pun di anggap tepat untuk pemasaran produk kapitalis.
Walaupun jumlahnya sedikit, kaum menengah atas di Indonesia tak segan membelanjakan sebagian kekayaan mereka untuk membeli produk-produk kaum kapitalis yang berharga mahal. Beraneka produk kapitalis global seperti musik, program acara televisi, berbagai franchise majalah hingga film laku dijual yang cepat diserap.
Adapun di Indonesia berdiri sejumlah media raksasa kancah nasional seperti MNC Grup yang memiliki hubungan erat dengan Viacom Internasional, Amerika, konten-konten pada semua media milik MNC grup sebagian diadopsi dari produk media global, dikarenakan hubungan yang cukup baik dengan pemilik media global dan tuntutan bisnis, kemudian ada Bakrie Grup, Trans Media Grup, Gramedia Grup, Femina Grup dan lain-lain. Masing-masing memiliki lebih dari satu media dan bentuknya sangat beragam. Mereka-mereka inilah yang memboyong produk western masuk ke tanah air. Masyarakat Indonesia sendiri secara tidak sadar sangat menyukai produk-produk tersebut dan akhirnya menjadi konsumtif terhadap segala sesuatu yang barbau media global. Yang terjadi, perkembangan industri media di Indonesia bergantung pada produk global saja. Contohnya, majalah-majalah seperti Cosmopolitan, Seventeen, Rollingstone, Go Girl!, Look, dan banyak lagi yang mengambil sumber berita dari pusatnya di luar negeri yang mendapat respon baik dari masyarakat.
Fenomena di atas erat hubungannya dengan Cultural Imperialism Theory, teori ini dikemukakan oleh Herb Schiller tahun 1973 dan menjelaskan bagaimana bangsa Barat berhasil mendominasi media di hampir seluruh pelosok dunia.
Media global yang di dominasi bangsa barat memiliki kekuatan pengaruh yang sangat kuat terhadap budaya dunia ketiga (negara-negara yang belum dan yang sedang berkembang termasuk Indonesia). Caranya adalah menetapkan pandangan-pandangan mereka atas kondisi budaya lokal sehingga budaya lokal semakin tergerus dan rusak. Selain itu Cultural Imperialism Theory menyatakan bahwa media massa yang dimiliki oleh bangsa barat dapat terus berkembang karena mereka mempunyai modal untuk melakukannya. Akibatnya, karena setiap hari dan setiap saat penduduk dunia ketiga tadi menonton dan membaca hasil dan pandangan-pandangan yang dilahirlakan oleh budaya barat, maka akibatnya mereka pun terpengaruh.
Industri media di Indonesia mau tidak mau mengadopsi produk media global agar diterima oleh masyarakat luas. Dan yang lebih parah lagi, budaya lokal menjadi semakin terpinggirkan atau mungkin suatu saat akan hilang sama sekali
Sebagai contoh serial anak-anak Upin Ipin milik Malaysia yang berhasil menembus Disney Channel sangat digemari oleh masyarakay Indonesia. Serial tersebut akhirnya di tayangkan di TPI. Padahal, Indonesia sendiri memiliki serial anak-anak Si Unyil yang tidak kalah menarik dengan Upin Ipin.
Ariella R.R 31Oktober2010


Tidak ada komentar:

Posting Komentar