"A daughter is a mother's gender partner, her closest ally in the family confederacy, an extension of her self. An mothers are their daughters' role model, their bilogical and emotional road map, the arbiter of all their relationships" (Victoria Secunda) Seseorang yang bijak meminjamkan kata-kata indahnya untuk saya renungkan. Menurutnya, anak perempuan adalah ‘rekan’ ibunya dalam keluarga, orang terdekat yang bisa memberi dukungan untuk dirinya, yang bisa melanjutkan atau melakukan lebih baik dari apa yang telah ia capai, ‘an extension of herself’.
Saya memang menganggap diri saya sebagai orang yang dekat dengan Mama. Dukungan, sudah pasti akan saya berikan penuh untuknya. Melakukan yang lebih baik dari yang telah ia lakukan? Wah….untuk yang satu itu sangat sulit. Bisa menjadi separuh dari dirinya saat ini saja, akan kuanggap diriku hebat. Perkenalkan, seorang ibu rumah rumah tangga sekaligus carrier woman yang perfeksionis “MAMAKU”
Waktu kecil, ketika belum begitu mengerti artinya panutan, saya menganggap Mama seperti tempat mengadu segala unek-unek. Mungkin karena dulu, ia mengajarkan saya untuk selalu menceritakan apa saja kepadanya. Tak peduli seburuk apa pun yang telah kulakukan, akan lebih baik jika saya berterus terang kepadanya. Balasannya, ia berjanji tak akan marah, atau paling tidak, cara tersebut bisa menjadi terapi untu mengurangi kebiasaan berbohong.
Di masa remaja, saya merasa Mama tidak seleluasa dulu. Padahal, di masa itu, saya menghadapi betapa sulitnya membagi waktu antara pelajaran dengan pergaulan. Namun, kemudian timbul lagi pelajaran berikutnya darinya, yaitu ‘kebiasaan bertanggung jawab’. Ia akan mulai percaya untuk memberikan kebebasan kepada saya, dengan syarat saya harus paham betul konsekuensi yang akan dihadapi. Misalnya, ia tak akan pusing untuk meladeni ego saya jika saya lebih ingin main dan bergaul, tapi jika nanti nilai saya jelek dan saya tak mendapatkan jurusan yang saya inginkan, ia juga tak akan repot menghibur saya.
Seiring berjalannya waktu, cara pandang saya terhadap Mama juga berubah. Saya sangat beruntung mendapatkan Mama seperti Beliau. Dirumah nyaris segalanya kami lakukan bersama, mulai dari memaasak, belanja, bahkan dalam mengambil keputusan. Saya merasa dianggap sebagai rekan dan beliau tidak pernah memandang sebelah keputusan yang saya buat. Dan sebagai rekan satu rumah, Mama juga bisa akrab dengan semua teman saya termasuk ‘si teman istimewa’.
Sampai sekarang, Mama tak pernah usil mengurusi masalah pribadi saya, termasuk masalah percintaan. Ia tak akan repot menghakimi hubungan saya dengan siapa pun, ia hanya perlu mengenal dan me-review. Semakin bertambah usia, saya semakin yakin menyadari bahwa saya membutuhkan dirinya lebih dari siapa pun. Dan sudah tentu saya akan selalu berdoa bagi kesehatan dan keselamatan kedua orangtua saya. Amin.
Ada sebuah perkataan bahwa percakapan terbaik antara ibu dan anak adalah saat keduanya diam dan hanya hati yang berbicara. Yang dikatakan itu ada benarnya juga. Tapi bagi saya, percakapan terbaik antara saya dan Mama adalah ketika kami bisa saling melontarkan ledekan bercanda ataupun perdebatan dan kami merasa lebih dekat. Di situlah saya merasakan betapa asyiknya bisa bersahabat dengan Mama. Happy Mother's day!
A.R.R
shawa marwah
