Selasa, 16 November 2010

Seleb dan Sang Sutradara a.k.a Parpol

           “Jalan pintas dianggap pantas” demikian kutipan iklan di televisi, sungguh ironis memang ketika kita menengok fenomena gonjang-ganjing para petinggi negara yang saat ini sedang berebut kedudukan, bahkan akhir-akhir ini sedang musimnya menjatuhkan jabatan, nama baik antar teman seprofesi, yang tak lain dengan maksud dan tujuan tertentu yaitu “menguasai”. Bisa saja saat ini rakyat sudah bosan dengan tingkah pecicilan para petinggi negara yang gemar menggerogoti sedikit demi sedikit uang rakyat yang lama-lama menjadi bukit yang akhirnya membentuk opini dan pandangan negatif rakyat terhadap para “tikus-tikus” kantor tersebut. Buruknya citra para petinggi negara di mata rakyat dan ketatnya persaingan antar partai politik (parpol), maka pada pemilu 2009 yang lalu, sejumlah Parpol berusaha keras bagaimana caranya mengubah citra negatif tersebut di mata rakyat supaya menjadi citra positif, maka dari itu tercetuslah ide mengambil jalan pintas dengan cara merengrut sejumlah artis untuk di iming-imingi jabatan sebagai anggota legislatif, walaupun sebenarnya ada juga sejumlah artis yang mendaftarkan dirinya secara personal tanpa di minta langsung oleh sebuah partai politik, yaitu dengan kesadaranya untuk mensejahterakan rakyat.
            Dengan begitu partai politik dapat memfungsikan artis sebagai alat kampanye dalam pemilu, mengapa bisa demikian? Pasalnya jauh sebelum menjadi calon anggota legislatif (caleg), seorang artis wajahnya memang sudah populer dikalangan masyarakat karena sering muncul di media, oleh karena itu artis caleg tidak perlu bersusah payah memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Seperti yang telah diungkapkan Rano Karno, “komponen tertinggi adalah popularitas, itu keuntungan kami sebagai artis. Sehingga masyarakat lebih mudah mengingat kami”, ujar pemeran Doel di sinetron si Doel anak sekolahan (SCTV: Liputan6, Selasa, tanggal 15 April 2008) Dengan begitu dapat di simpulkan bahwa, Semua bentuk komunikasi yang dilakukan oleh aktor-aktor politik tak lain adalah untuk mencapai tujuan khusus (Mcnair, 1999:3).
            Serombongan artis yang mendaftar sebagai caleg, hendaknya tidak hanya mengandalkan ketampanan, kecantikan, dan kepopuleranya saja, tetapi mereka harus mempunyai dasar ilmu politik yang kuat, mampu berkomunikasi politik secara baik, berpengalaman dalam organisasi dan yang terpenting mereka harus siap berlaga di Pemilu. Apa jadinya jika seorang artis menjadi caleg hanya bermodal tenar karena sering di ekspos oleh media, padahal peranan komunikasi politik itu sangatlah penting, dan positif komunikasi politik itu hanya mungkin terjadi bilamana ia betul-betul menyatu dan menjadi bagian integral dari sistem dan budaya politik demokrasi. Ia berakar di dalamnya, hidup dan berkembang bersama-sama didalamnya (Alfian, 1991:12).
            Di ranah citra personal, politisi modern dinilai bukan hanya pada apa yang mereka ucapkan dan lakukan, tapi bagaimana mereka mengucapkan dan bertindak (Mcnair, 1999: 140). Oleh karena itu menjadi seorang caleg tidak semudah yang dibayangkan, tidak hanya sekadar berkoar-koar saja di hadapan rakyat, akan tetapi mereka hendaknya mampu menyeimbangkan serta merefleksikan tindakan dan bertanggung jawab atas ucapan janji-janji mereka kepada rakyat, karena tugas seorang caleg tak lain adalah penyambung lidah rakyat, bukan hanya sekedar datang, duduk, dan terima uang saja.
            Akan tetapi bagaimanapun juga faktanya kehidupan seorang artis memang sangat jauh dari cermin kehidupan rakyat Indonesia yang sarat akan berbagai masalah sosial, jadi betapa prihatinnya kita ketika melihat posisi kedudukan caleg yang lazimnya diduduki oleh para kader-kader yang berkompeten dalam bidang politik, mempunyai pengalaman organisasi, dan siap terjun berjuang bersama rakyat, malah diisi dengan serombongan artis yang notabene bergaya hidup mewah dan kontroversial. Artis Vena Melinda mengatakan bahwa sebenarnya ia tak memiliki latar belakang politik sebelumnya. Karena itu Vena berencana mengambil kursus singkat tentang politik. “Jadi nanti nggak blank banget,” ucap Vena. Tak hanya berencana kursus, aktivitas Vena nanti juga praktis berubah setelah menjadi anggota Dewan. Vena mengaku akan mengurangi aktivitas keartisan dan lebih fokus menjadi anggota Dewan. Pendapat artis tampan Primus Yustisio juga tak beda jauh dengan pendapat Vena, di sela-sela kesibukanya sebagai anggota Dewan, Primus mengatakan akan berusaha membagi waktu lebih cermat lagi antara karier dan keluarga, ucap suami artis Jihan fahira (SCTV: Liputan6, Rabu, tanggal 13 Mei 2009)
            Terpilihnya artis sebagai caleg tak lepas dari peran media. Model komunikasi agenda setting yang menegaskan bahwa adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak pada persoalan tersebut. Dengan kata lain apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Dan apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat (Ardianto, 2007:77). Contohnya pada saat media mengekspos artis caleg, maka masyarakat akan menganggap penting dan menarik terhadap berita tersebut karena pada profesinya artis tampil sebagai publik figure, tetapi sekarang artis malah menjadi pejabat setingkat senayan, praktis hal tersebut menarik bagi masyarakat, berbeda apabila media tidak mengekspos artis caleg, maka masyarakat juga akan menganggap berita itu tidak penting, karena selain tidak terlalu menarik minat masyarakat, media juga tidak terlalu mengekspos berita tersebut.
Sebenarnya tidak semua artis tak pandai berpolitik, banyak artis-artis yang sudah menunjukkan bahwa dirinya mampu bertanggung jawab, berkompeten, dan berjuang untuk rakyat, seperti Adjie Masaid, Angelina Sondakh, dan Alm.Sophan Sopian, mereka sudah terbilang bukan orang baru lagi di dunia politik, akan tetapi tanpa bermaksud menilai buruk artis, ada baiknya jika seorang artis sadar diri akan kemampuan yang dimiliki bahwa dirinya memang belum siap menjadi seorang politisi, maka lanjutkan saja dan kembangkan lagi bakatnya sesuai bidang yang digeluti yaitu publik figure, dan sebaiknya gedung senayan di duduki oleh para wakil rakyat yang profesional di bidang politik dan siap berjuang bersama rakyat, bukan berjuang bersama pejabat mengkibuli rakyat.
A.R.R
Shafa Marwah 111209 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar